Pengertian Teori Khemostatik dan Thermostatik Pada Ayam

By On Wednesday, July 12th, 2017 Categories : Info Lainnya

Pengertian Teori Khemostatik dan Thermostatik Pada Ayam – Teori Khemostatik adalah teori bahwa hewan makan untuk mencukupi kebutuhan nutrien.

Sementara, teori Termostatik mengungkapkan bahwa hewan makan untuk mempertahankan temperatur tubuhnya.

Pakan/makanan yang dikonsumsi oleh ayam dapat digunakan dalam 3 cara, yaitu :

  1. Menyediakan energi untuk aktivitas
  2. Dapat dikonversi menjadi panas
  3. Dapat disimpan juga sebagai jaringan tubuh

Salah satu kelebihan daripada energi pakan yang dikonsumsi setelah terpenuhi adalah untuk kebutuhan pertumbuhan normal serta metabolisme yang biasanya disimpan sebagai lemak.

Baca Juga : Sejarah dan Asal Usul Ayam Cemani

Kelebihan energy yang satu itu tidak dapat dibuang atau diekskresikan oleh tubuh ayam. Energi tersebut disimpan di dalam karbohidrat, protein, serta lemak dari bahan makanan.

Bahan-bahan yang disebutkan diatas ternyata mengandung karbon (C) serta hidrogen (H) berupa bentuk yang dapat dioksidasi menjadi karbondioksida (CO2) serta air (H2O) yang dapat menunjukan energi potensial bagi ternak.

Adapun jumlah panas yang akan diproduksi ketika pakan tersebut dibakar secara sempurna dengan adanya oksigen bisa diukur dengan alat kalorimeter bom yang disebut sebagai Energi Bruto (EB) dari pakan.

Persentase daripada EB yang mampu dimanfaatkan oleh tubuh ternak serta digunakan agar mendukung proses metabolik tergantung kepada kemampuan ayam untuk mencerna bahan makanan mereka.

Pencernaan tersebut dapat mencerminkan proses fisika dan kimia yang terjadi di dalam saluran pencernaan serta dapat menyebabkan pecahnya senyawa kimia kompleks yang ada di dalam pakan menjadi berbagai molekul yang lebih kecil yang dapat diserap serta digunakan oleh ayam.

Jenis energi yang diserap tersebut yaitu Energi Dapat Dicerna (EDD). Pada hewan ternak non-ruminansia, kehilangan energi lebih lanjut tersebut dapat terjadi melalui urin berupa limbah yang didalamnya mengandung nitrogen serta senyawa lain yang tidak dioksidasi oleh tubuh serta untuk hewan ruminansia selain melalui urin, kehilangan energi juga bisa melalui pembentukan gas methan.

EDD tersebut dapat dikurangi energi yang hilang melalui urin (non-ruminansia) atau juga urin ditambah methan (ruminansia), yang dimana disebut sebagai Energi Metabolis (EM) pakan.

Pada saat terjadinya metabolisme zat makanan, terjadinya kehilangan energi disebut Heat Increasement. Nah, sisa energi daripada pakan yang tersedia bagi ayam tersebut dapat digunakan untuk keperluan hidup pokok (maintenance) dan produksi tersebut dinamakan Energi Neto (EN).

Bagi ayam yang menghasilkan performan yang tertinggi, ayam tersebut akan memerlukan nutrien. Nutrien tambahan tersebut sangat dibutuhkan untuk hidup pokok.

Teori Khemostatik

Hipotalamus mampu mengatur berbagai pengeluaran zat makanan dari makanan yang ada di dalam saluran pencernaan, penyerapan dan transportasi zat-zat makanan.

Jika berdasarkan pada  teori khemostatik, terjadinya peningkatan konsentrasi substansi tertentu mampu memberikan signal untuk dapat berhenti makan dan sebaliknya apabila konsentrasi rendah dapat menyebabkan ayam akan mulai makan.

Glukosa disini berperan sebagai indikator yang menentukan kenyang atau laparnya bagi ayam. Apabila konsentrasi glukosa di dalam darah rendah dan disuntik dengan insulin, maka ayam tersebut akan merasa lapar.

Sebaliknya, apabila setelah makan konsentrasi glukosa akan meningkat maka ayam akan berhenti makan.

Reseptor daripada glukosa dapat diduga terletak di bagian hipotalamus. Hipotalamus tersebut mampu memonitor kadar glukosa baik di pembuluh darah. Beberapa penelitian yang lain dapat menunjukan bahwa reseptor tersebut ada di saluran pencernaan dan hati.

Beberapa hipotesis lain mengatakan bahwa yang mengatur komunikasi saluran pencernaan dan otak yaitu hormon peptida cholecystokinin.

Hormon tersebut dapat  dikeluarkan apabila asam amino dan asam-asam lemak mampu mencapai duodenum. Hal tersebut merupakan kerja daripada hipotalamus.

Teori Thermostatik

Teori thermostatic ini berlandasan bahwa ternak akan makan agar dapat mempertahankan panas dan akan berhenti makan agar dapat mencegah hypertermia.

Panas yang dihasilkan daripada hasil pencernaan serta metabolisme makanan yaitu merupakan suatu signal dalam pengaturan makan.

Thermoreceptor ternyata sensitif terhadap perubahan panas yang terjadi di anterior hipotalamus serta juga di periperal kulit.

Baca Juga : Penyebab dan Cara Mengobati Ayam Yang Terserang Penyakit Pilek

Loading...
Pengertian Teori Khemostatik dan Thermostatik Pada Ayam | ilmuhewan | 4.5