Pengertian Dan Fungsi Protease Dan Hemiselulosa Pada Ternak

By On Friday, January 19th, 2018 Categories : Jenis dan Macam

Pengertian Dan Fungsi Protease Dan Hemiselulosa Pada Ternak – Berdasarkan atas lingkungan kerja, protease dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu protease asam, netral, dan alkalis.

Protease berdasarkan atas letak pengeluarannya terbagi lagi menjadi protease intraselular dan ekstraselular. Protease intraselular memiliki tugas mendegradasi zat – zat protein yang kurang dibutuhkan atau zat protein abnormal bekerja lebih cepat sehingga tidak akan mengganggu proses metabolisme pada sel – sel yang aktif.

Protease ekstraselular bertangggung jawab untuk menghidrolisis protein menjadi peptida kecil dan asam amino sehingga akan lebih mudah diserap oleh sel (menurut zahiroh dalam bukunya, 2013).

Selulase adalah kumpulan beberapa enzim yang akan menghidrolisis selulosa. Enzim selulase tersebut di atas dihasilkan dari beberapa jenis kapang dan bakteri. Produksi enzim selulase dari kapang atau bakteri adalah kelanjutan terhadap respon yang diberikan oleh kapang atau bakteri terhadap adanya selulosa di dalam lingkungan hidupnya (menurut Rohman, 2013).

Baca Juga : Pengantar Ilmu Peternakan

Selulase yang dihasilkan oleh mikroba adalah selulase ekstraselular yang akan menghidrolisis selulosa dengan melalui sebuah proses dimulai dari bagian luar sel. Substrat selulosa dan turunannya selanjutnya akan dihidrolisis oleh enzim selulase yaitu pada ikatan β – 1,4.

Selulase adalah zat enzim kompleks yang akan bekerja sesuai dengan sinergis antara rangkaian zat yang satu dengan lainnya, terdiri dari tiga komponen enzim antara lain eksoglukanase (selobiohidrolase) yang berfungsi secara spesifik untuk memecah unit – unit selobiosa non pereduksi dan menghidrolisis selulosa melalui daerah kristalin, dimana nantinya endoglukanase akan bekerja pada bagian dalam dari daerah amorf dengan memutus ikatan selulosa.

Seperti diketahui bahwa enzim adalah salah satu senyawa yang memiliki sifat kompleks tersusun dari protein dalam bentuk susunan rantai yang teratur dan tetap. Adapun peran utama enzim adalah sebagai katalisator terhadap sebuah reaksi, dimana katalisator inilah yang membuat enzim mampu bekerja secara terarah lalu merujuk kepada posisi molekul dengan tingkat laju reaksi yang diperkirakan hampir mendekati sebuah proses sempurna serta didukung oleh produk samping yang dihasilkan dalam jumlah sedikit bahkan jarang.

Menurut Gomathi et al. (2011), agar bisa memperoleh enzim dalam jumlah besar, mikroba penghasil protease harus melalui proses inkubasi untuk memperoleh suhu optimal yaitu 30oC – 40oC sehingga berkembang dengan sehat.

Protease diproduksi melalui metode fermentasi yang dilakukan antara lain melalui fermentasi semi padat atau fermentasi substrat padat (menurut Himakiranbabu et al. 2012). Protease ini memiliki klasifikasi berdasarkan atas sumber, letak pemecahan ikatan peptida, letak pengeluaran dan berdasarkan atas lingkungan kerjanya.

Sedangkan hemiselulosa adalah sebuah proses polisakarida yang hanya terdapat dalam tanaman dan tergolong sebagai senyawa organik (Simanjuntak,1994).

Casey (1960) mempertegas bahwa hemiselulosa memiliki sifat non-kristalin dan tidak bersifat serat, mudah mengembang karena dipengaruhi oleh bentuk seperti jalinan antara serat pada saat terjadinya pembentukan lembaran, lebih mudah larut dengan pelarut alkali dan mudah dihidrolisis dengan asam.

Perbedaan hemiselulosa dengan selulosa adalah hemiselulosa akan mudah terlarut dalam alkali tetapi sukar dilarutkan dalam asam, sedang selulosa adalah sebaliknya. Hemiselulosa merupakan serat – serat panjang seperti selulosa dimana hasil hidrolisis selulosa adalah D-glukosa, sedangkan hasil hidrolisis hemiselulosa adalah D-xilosa dan monosakarida lainnya (Winarno, 1984). Lebih lanjut dijelaskan bahwa hemiselulosa tersusun atas penggabungan gula – gula bersifat sederhana dengan lima atau enam atom karbon.

Degradasi hemiselulosa di dalam asam memiliki sifat lebih tinggi dibandingkan dengan delignifikasi, dan hidrolisis biasanya dalam suasana basa sehingga tidak semudah diproses dalam suasana asam (Achmadi , 1980). Mac Donal dan Franklin (1969) menyatakan bahwa dengan adanya hemiselulosa dalam kondisi normal, maka akan mengurangi waktu dan tenaga yang dibutuhkan untuk melunakkan serat dalam makanan selama proses mekanis di dalam air.

Berdasarkan sumbernya, protease tersebut di atas terbagi menjadi protease dari tanaman, hewan, dan mikroba, sedangkan berdasarkan atas pemecahan ikatan peptia, dibedakan menjadi endoprotease dan eksoprotease (Suhartono 1992).

Eksoprotease berfungsi menguraikan protein dari rantai terluar sehingga akan menghasikan zat asam amino dan peptida pada tingkat penguraian pertama, selanjutnya pada tingkat berikutnya yang akan menghasilkan beberapa zat asam amino yang lain. Endoprotease berfungsi menguraikan protein pada rantai dalam lalu menghasilkan peptida dan polipeptida (Suhartono 1992).

Kembali kepada hemiselulosa, berfungsi sebagai pendukung dinding sel aktif dan sekaligus sebagai perekat antar sel – sel tunggal yang terdapat pada batang pisang dan jenis tanaman yang lainnya. Hemiselulosa bersifat non – kristalin dan bukan serat, mudah mengembang, mudah larut dalam air, hidrofolik, serta mudah dilarutkan dalam alkali. Diketahui bahwa kandungan hemiselulosa cukup tinggi sehingga mampu memberikan kontribusi pada ikatan – ikatan antar serat lalu bertindak sebagai perekat dengan serat tunggal.

Pada saat proses pemasakan sedang berlangsung, hemiselulosa mulai melunak, serat yang sudah terpisah selanjutnya akan menjadi lebih mudah berserabut (Indrainy, 2005).

Semoga bermanfaat !

Baca Juga : Fungsi dan Peranan Lisosom Pada Hewan

Loading...
Loading...
Pengertian Dan Fungsi Protease Dan Hemiselulosa Pada Ternak | ilmuhewan | 4.5