Hukum Jual Beli Burung Kicau Dalam Islam

By On Sunday, July 9th, 2017 Categories : Info Lainnya

Hukum Jual Beli Burung Kicau Dalam Islam – Didalam suatu transaksi jual beli, baik itu binatang maupun benda lainnya, yang harus kalian perhatikan lebih lagi adalah manfaatnya.

Yang artinya selama benda yang diperjualbelikan tersebut halal untuk dimanfaatkan maka boleh diperjual belikan, terkecuali jika ada dalil yang akan melarang.

Para ulama membuat sebuah kaidah yakni,

كُلُّ مَا صَحَّ نَفْعُه صَحَّ بَيْعُه إِلَّا بِدَلِيلٍ

“Semua yang boleh dimanfaatkan, boleh diperjualbelikan, kecuali jika ada dalil.”

Didalam kaidah tersebut, benda atau apapun yang boleh diperjualbelikan adalah benda atau apapun yang boleh dimanfaatkan. Terdapat dua buah syarat supaya benda tersebut dapat disebut dan boleh dimanfaatkan :

Benda Tersebut Memiliki Manfaatnya Sendiri.

Benda yang sama sekali tidak mempunyai manfaat maka tidak boleh untuk diperjualbelikan. Contohnya seperti serangga kecil, kutu, yang sama sekali tidak memiliki manfaatnya.

Manfaat Benda Ini Hukumnya Mubah

Benda yang tidak bermanfaat kecuali untuk sesuatu yang haram hukumnya, tidak boleh diperjual belikan. Contohnya seperti patung, alat musik, rokok, dan benda-benda fasilitas maksiat lainnya.

Burung atau ikan hias dapat kalian miliki, akan tetapi tidak untuk dikonsumsi. Nilai daging yang dimilikinya sangat tidak sebanding dengan harga belinya. Hewan-hewan tersebut dihadirkan di rumah kalian sebagai bentuk hiasan, dan ini merupakan manfaat mubah.

Sahabat Anas bin Malik mempunyai seorang adik yang memiliki nama Abu Umair. Abu Umair memiliki burung peliharaan yang bernama Nughair.

Pada suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan Abu Umair yang sedang menangisi burung peliharaannya tersebut. Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyapanya,

يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ

“Wahai Abu Umair, apa yang sedang terjadi dengan burungmu?” (HR. Bukhari 6129 & Abu Daud 4971)

Dalam hadis di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan Abu Umair memelihara dan bermain dengan burung yang dia pelihara tersebut. Dia pun tidak memerintahkan orang tuanya agar melepas burung yang ia pelihara tersebut.

Dikarenakan hal tersebut, burung dapat kalian kategorikan sebagai benda atau sesuatu yang halal untuk diperjual belikan. Terkecuali jika burung tersebut diperintahkan untuk dibunuh, seperti burung hering atau burung gagak.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu,

إنَّ اللهَ إذا حرَّمَ شيئاً ، حرَّمَ ثَمَنَهُ

Sesungguhnya ketika Allah mengharamkan sesuatu, Dia haramkan uang hasil penjualannya. (HR. Ibn Abi Syaibah 20754).

Hewan peliharaan mempunyai tujuan pemeliharaannya yang berbeda dengan hewan ternak maupun hewan percobaan laboratorium, hewan pekerja serta hewan untuk olahraga yang biasanya dipelihara untuk alasan ekonomi. Hukum untuk memelihara ataupun jual beli hewan seperti itu secara syar’i adalah diperbolehkan atau mubah. Akan tetapi, ada beberapa syarat tertentu yang harus dipenuhi ketika kalian ingin memelihara ataupun melakukan jual beli hewan, yakni :

  1. Hewan yang dipelihara atau diperjualbelikan bukan merupakan hewan yang najis secara dzatnya (najis ‘ain/hissi) seperti anjing dan babi. Pemeliharaan dan perlakuan jual-beli terhadap hewan tersebut tidak boleh dikarenakan memanfaatkan barang atau sesuatu najis itu memang sangat dilarang secara syariah. Kaidah fiqih sudah menetapkan : Laa yajuuzu al intifaa’ bi an najis mutlaqan (Tidak boleh memanfaatkan najis secara mutlak). Akan tetapi, jika memelihara anjing yang berguna untuk menjaga ternak maupun membantu dalam berburu, maka hal itu tentunya diperbolehkan Nabi SAW bersabda, ”Barangsiapa memelihara anjing, kecuali anjing untuk menjaga ternak atau berburu, akan berkurang pahala amalnya tiap hari sebanyak satu qirath.” (HR Muslim no 1574) (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 35/124).
  2. Hewan yang dipelihara maupun diperjualbelikan tidak boleh ditelantarkan, serta hewan tersebut harus cukup diberi makan dan minum dan tidak diperkenankan untuk mendapat perlakukan dengan keji dan semena-mena.
  3. Hewan yang dipelihara maupun diperjualbelikan tersebut tidak memunculkan suatu bahaya (dharar) bagi manusia, hewan tersebut contohnya seperti beruang, singa, buaya maupun ular, dikarenakan hal tersebut tidak aman bagi manusia maupun bagi tetangga ataupun orang lain jika dilepaskan.

Baca Juga : Ciri-Ciri Penipuan Jual Beli Burung Online

Loading...
Loading...
Hukum Jual Beli Burung Kicau Dalam Islam | ilmuhewan | 4.5